Senin, 09 November 2009

ANALISIS KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN (KTSP) DALAM PERSPEKTIF FILSAFAT PENDIDIKAN DAN PSIKOLOGI PENDIDIKAN

Oleh: Arbain Nurdin
Sekilas Tentang KTSP
Kurikulum dalam pandangan lama merupakan kumpulan mata pelajaran yang harus disampaikan guru atau dipelajari oleh siswa. namun dengan berkembangnya ilmu pengetahuan kurikulum diartikan sebagai suatu perencanaan yang memberikan pedoman atau pegangan dalam proses belajar-mengajar. Dengan kata lain kurikulum adalah seperangkat pengalaman belajar yang dirancang secara sistematis dan disediakan untuk membantu perkembangan kepribadian siswa dalam aspek intelektual, emosional, spiritual dan sosial yang terwujud dalam bentuk pengetahuan, keterampilan, dan sikap-sikap, nilai-nilai serta pandangan hidup yang selaras dengan visi, misi, dan tujuan pendidikan yang ditetapkan.
KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) merupakan kurikulum operasional yang disusun oleh dan dilaksanakan di masing-masing satuan pendidikan (sekolah/madrasah). Sedangkan pemerintah pusat hanya memberikan rambu-rambu yang perlu dirujuk dalam pengembangan kurikulum. Selain itu, dalam mengembangkan KTSP ini antara lain dengan menggunakan pendekatan Kurikulum berbasis kompetensi (KBK) karena KTSP merupakan kurikulum yang dimaksudkan untuk mempertegas pelaksanaan KBK yang bermuara kepada kompetensi siswa/peserta didik. Di antara ciri-ciri pengembangannya adalah:
1. Menitikberatkan pencapaian target kompetensi daripada penguasaan materi
2. Lebih mengakomodasi keberagaman kebutuhan dan sumber daya pendidikan yang tersedia
3. Memberikan kebebasan yang lebih luas kepada pelaksana pendidikan di lapangan untuk mengembangkan dan melaksanakan program pendidikan sesuai dengan kebutuhan.
Jadi, esensi pengembangan KTSP adalah mengembangkan pendidikan yang demokratis dan non-monopolistik.
Selain itu, pengembangan KTSP pada dasarnya merupakan manifestasi dari otonomi sekolah/madrasah, yang dalam pengembangannya masih tetap menggunakan pendekatan KBK dalam standar isi dan dalam prosesnya mengintegrasikan dengan kebutuhan pengembangan potensi peserta didik untuk hidup atau memiliki kecakapan hidup (life skill).

Kelebihan dan kelemahan KTSP
Setiap apa yang kita hasilkan dalam bentuk karya tentu memiliki kelebihan serta kelemahannya. Sama halnya dengan KTSP ini juga memiliki kelebihan serta kelemahan. Beberapa kelebihan KTSP adalah:
1. Mendorong terwujudnya otonomi sekolah dalam pendidikan.
Tidak dapat dipungkiri bahwa salah satu bentuk kegagalan pelaksanaan kurikulum di masa lalu adalah adanya penyeragaman kurikulum diseluruh Indonesia (sentralisasi), tidak melihat situasi riil di lapangan, dan kurang menghargai potensi keunggulan lokal. Untuk itulah kehadiran KTSP diharapkan dapat memberikan jawaban yang konkrit terhadap mutu dunia pendidikan di Indonesia. Dengan semangat otonomi itu, sekolah bersama dengan komite sekolah dapat secara bersama-sama merumuskan kurikulum sesuai dengan kebutuhan situasi dan kondisi lingkungan.
2. Mendorong guru, kepala sekolah dan pihak manajemen untuk semakin meningkatkan kreatifitasnya dalam penyelenggaraan program pendidikan.
Dengan berpijak pada panduan KTSP sekolah diberi kebebasan untuk merancang, mengembangkan, dan mengimplementasikan kurikulum sekolah sesuai dengan situasi, kondisi dan potensi keunggulan lokal yang bisa dimunculkan oleh sekolah.
3. KTSP sangat memungkinkan bagi tiap sekolah untuk mengembangkan mata pelajaran tertentu bagi kebutuhan siswa.
KTSP menitikberatkan pada mata pelajaran tertentu yang dianggap paling membutuhkan siswanya. Sebagai contoh sekolah yang berada dalam kawasan pariwisata dapat lebih menfokuskan pada mata pelajaran bahasa Inggris atau mata pelajaran di bidang kepariwisataan lainnya.
4. KTSP mengurangi beban belajar siswa yang sangat padat dan memberatkan kurang lebih 20 persen.
Dengan diberlakukannya KTSP beban belajar siswa berkurang karena KTSP lebih sederhana. Tetapi tetap memberikan tekanan bagi perkembangan siswa. Alasan diadakannya pengurangan jam pelajaran ini karena menurut pakar pendidikan anak bahwa jam pelajaran di sekolah-sekolah selama ini terlalu banyak. Sehingga suasana yang tercipta pun terkesan sangat formal. Akibat yang lebih jauh lagi dapat mempengaruhi perkembangan jiwa anak. Hal ini dirasakan oleh siswa SD yang masih anak-anak dan mereka membutuhkan waktu bermain yang cukup untuk mengembangkan kepribadiannya secara alami.
5. KTSP memberikan peluang yang lebih luas kepada sekolah-sekolah plus untuk mengembangkan kurikulum sesuai dengan kebutuhannya.

Adapun beberapa kelemahan KTSP di antaranya adalah:
1. Kurangnya sumber daya manusia (SDM) yang diharapkan mampu menjabarkan KTSP pada kebanyakan satuan pendidikan yang ada.
2. Kurangnya ketersediaan sarana dan prasarana pendukung sebagai kelengkapan dari pelaksanaan KTSP.
Ketersediaan sarana dan prasarana yang lengkap merupakan salah satu syarat yang paling penting bagi pelaksaan KTSP. Sementara kondisi di lapangan menunjukan masih banyak satuan pendidikan yang minim alat peraga, laboratorium serta fasilitas penunjang lainnya.
3. Masih banyaknya guru yang belum memahami KTSP secara komprehensip baik konsepnya, penyusunannya, maupun praktek pelaksaannya di lapangan.
4. Penerapan KTSP yang merekomendasikan pengurangan jam pelajaran berdampak pada pendapatan guru.

KTSP dalam perspektif filsafat pendidikan
Dalam dunia pendidikan akan muncul masalah-masalah yang luas, kompleks dan mendalam, yang tidak terbatas oleh pengalaman inderawi maupun fakta-fakta faktual, yang tidak mungkin dapat dijangkau oleh sains. Masalah-masalah tersebut diantaranya adalah tujuan pendidikan yang bersumber dari tujuan hidup manusia dan nilai sebagai pandangan hidup. Nilai dan tujuan hidup memang merupakan fakta, namun pembahasannya tidak bisa dengan menggunakan cara-cara yang dilakukan oleh sains, melainkan diperlukan suatu perenungan yang lebih mendalam.
Oleh karena itu, beberapa aliran filsafat pendidikan memiliki peran signifkan dalam perumusan sebuah kurikulum, khususnya kurikulum yang diterapkan saat ini. Seperti aliran Progresivisme menekankan pada pentingnya melayani perbedaan individual, berpusat pada peserta didik, variasi pengalaman belajar dan proses. Progresivisme merupakan landasan bagi pengembangan belajar peserta didik aktif, kreatif, dinamis dan punya motivasi. Serta beranggapan bahwa untuk mengembangkan peserta didik dibutuhkan kurikulum yang bersifat fleksibel (tidak kaku, tidak menolak perubahan, tidak terikat doktrin tertentu) dan dinamis sehingga kurikulum dapat direvisi serta dievaluasi setiap saat sesuai dengan kebutuhan setempat. Berdasarkan pandangan ini KTSP merupakan kurikulum yang cocok karena memiliki prinsip demokratis dan non-monopolistik.
Selain aliran progresivisme. Aliran rekonstruktivisme merupakan elaborasi lanjutan dari aliran progresivisme. Aliran ini menekankan pada peradaban manusia masa depan, di samping itu juga menekankan tentang perbedaan individual seperti pada progresivisme, juga lebih menekankan tentang pemecahan masalah, berfikir kritis dan sejenisnya. Dalam KTSP siswa diharapkan mampu memiliki kompetensi sehingga mereka dapat memcahkan permasalahan yang akan dihadapi di masa yang akan datang. Dari sini dapat diartikan bahwa paradigma rekonstruktivisme ini sejalan dengan KTSP karena sama-sama menekankan akan perbedaan skill per-individu serta melihat ke masa depan bukan masa lalu seperti yang digagas oleh aliran-aliran sebelumnya seperti: perenialisme dan esensialisme.

KTSP dalam perspektif psikologi pendidikan
Psikologi pendidikan merupakan sebuah ilmu yang mempelajari perilaku individu dalam situasi pendidikan. Dalam kaitannya dengan ilmu ini, ada beberapa aliran di dalamnya, di antaranya adalah: aliran behavioristik, aliran kognitif, aliran humanistik dan aliran sibernetik.
Berdasarkan beberapa aliran psikologi pendidikan tersebut, aliran kognitif lebih banyak dianut dalam pengembangan KTSP, tanpa menghilangkan aliran-aliran yang lain. Dengan kata lain, aliran yang juga memberikan dampak dalam pengembangan KTSP walaupun sedikit.
Dalam aliran kognitif yang lebih ditekankan pada aspek proses belajar. Di sini KTSP dikembangkan sesuai kebutuhan tiap satuan pendidikan, jadi pemerintah dengan KTSP ini mengharapkan pelaksana pendidikan di tiap satuan pendidikan dapat secara bebas menentukan program atau kegiatan dengan segala komponennya sehingga dapat mengembangkan potensi-potensi yang dimiliki siswa.
Selain aliran kognitif, aliran sibernetik juga menekankan proses menggali informasi, karena perbedaan individu menyebabkan perbedaan dalam proses mencari informasi. Contohnya: kalau si Budi belajar Aqidah akhlaq dengan media audio visual, beda lagi dengan Ahmad ia tidak menggunakan media elektronik melainkan dengan membaca buku-buku yang berkaitan dengan materi aqidah akhlaq. Dengan KTSP ini guru maupun murid bebas menentukan metode apa yang cocok digunakan dalam menjelaskan atau mempelajari sebuah materi.

DAFTAR PUSTAKA

Hamzah, B. Uno. Orientasi Baru Dalam Psikologi Pembelajaran. Jakarta. PT. Bumi Aksara. 2006

Jalaluddin dan Idi, Abdullah. Filsafat Pendidikan: Manusia, filsafat, dan Pendidikan. Jogjakarta. AR-RUZZ MEDIA. 2007

Muhaimin. Dkk. Pengembangan Model KTSP Pada Sekolah & Madrasah. Jakarta. PT RajaGrafindo. 2008

Sukmadinata, Nana Syaodih. Pengembangan Kurikulum; Teori dan Praktek. Bandung. PT. Remaja Rosdakarya. Cet. XI 2009

Sudiyono. Dkk. Pedoman Pendidikan UIN Malang Tahun Akademik 2007/2008. Malang. 2007

http://adjatsoedra.blogdetik.com/2009/01/08/pendekatan-dalam-teori-teori-pendidikan/ diakses 25 Oktober 2009

http://www.anakciremai.com/2009/01/makalah-ilmu-pendidikan/ diakses 25 Oktober 2009

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar