Kamis, 25 Desember 2008

Dialektika Socrates

A. Pendahuluan
Perkembangan ilmu pengetahuan tidak lepas dari peran sentral tokoh-tokohnya. Karena berkat kegigihan mereka dalam mencari dan berpikir itulah ilmu pengetahuan dapat direalisasikan.
Pada masa Yunani Klasik, ada tiga tokoh besar yang memiliki peran tersebut. Dimana mereka banyak memberikan kontribusi pemikiran atau khazanah pengetahuan baik itu dalam bentuk metode, konsep maupun karya tulis.
Salah satunya adalah Socrates, seorang filosof yang agung dengan filsafatnya sehingga melahirkan para filosof sesudahnya. Salah satu filsafatnya adalah dialektika. Dengan ini Socrates dapat menyangkal pendapat kaum sofis yang tatkal itu berkuasa di daratan Athena dengan pemikirannya bahwa kebenaran itu relatif.

Lebih lanjutnya, maka rumusan masalah dari makalah ini adalah:
1. Bagaimana biografi Socrates?
2. Bagaimana metode pembelajaran Socrates?
3. Apa saja poin yang lahir dari metode pembelajaran Socrates?
Setelah mengetahui sedikit dari makalah ini tentang Socrates, baik itu biografi, metode pembelajarannya maupun poin-poin dari metode tersebut. Maka kita dapat mengambil ibroh dari itu semua. Amien.
B. Pembahasan
Biografi Socrates
Socrates (469-399 SM) merupakan salah seorang filosof pada masa Yunani Klasik, dimana biografi tentang dirinya hanya didapatkan dari para muridnya, diantaranya: Plato dengan bukunya yang berjudul Apology serta Crito dan Phaedo. Selain itu dari Aristophanes, Xenophon, dan Aristoteles. Dikarenakan Socrates tidak meninggalkan atau menwarisi satupun karya tulis.
Socrates berwajah buruk tapi bertubuh kuat, Socrates adalah anak Sophronicus, seorang ahli pahat, dan Phainarete seorang ahli bidan (dukun beranak). Dalam usia pertengahan ia kawin dengan Xanthippe, yang dikatakan suka mengomel dan mencaki-maki, walaupun tak ada dasar kuat untuk sangkaan tersebut. Socrates termasyur dengan kekuatan intelektualnya sebelum berusia 40 tahun. Pada waktu itu, menurut buku Plato yang berjudul Apology (meriwayatkan tentang pidato pembelaan Socrates), Dewa di Delphi (Oracle at Delphi) mengatakan bahwa Socrates adalah orang yang paling bijaksana di Yunani.
Socrates mendapatkan pendidikan dengan baik, dan pada awalnya ia seorang prajurit Athena yang gagah berani, ia tidak mencampuri urusan politik dan lebih perhatian kepada urusan filsafat. Saat berusia 30-an, ia bekerja sebagai seorang guru moral sosial yang tidak mengambil imbalan juga tidak mendirikan gedung sekolah. Ia suka berdiskusi berbagai macam masalah di tempat umum, misalnya: tentang perang, politik, persahabatan, seni, etika moral dll.
Socrates hidup pada masa kaum sofis, dimana kaum ini sangat menentang para filosof yang selalu mengagungkan akal sebagai alat untuk berfikir, yang akhirnya pengetahuan akan didapatkan. Kemudian kaum sofis ini berkeyakinan bahwa dengan panca indera-lah pengetahuan dapat diraih. Selain itu, mereka juga (kaum sofis) menyebarkan doktrin relativisme kepada pemuda-pemuda Athena, dimana doktrin ini menyatakan bahwa semua kebenaran itu relatif. Tidak ada kebenaran yang objektif.
Pada tahun 399 SM Socrates diadili dan dihukum mati dengan minum racun dikarenakan ia dituduh telah merusak kaum remaja dan meyiarkan ajaran agama yang salah. Dan tuduhan itu disampaikan oleh Anytos pada saat Socrates berusia 70 tahun. Peradilan serta kematian Socrates dibentangkan dalam buku-buku Plato yang berjudul Apology; Crito dan Phaedo. Buku-buku ini ditulis dengan cara yang dramatis. Menurut Phaedo, Socrates meninggal dengan tenang dengan dikelilingi oleh kawan-kawan dan siswanya.
Metode Pembelajaran Socrates (Dialektika)
Metode pembelajaran Socrates bukanlah dengan cara menjelaskan, melainkan dengan cara mengajukan pertanyaan, menunjukkan kesalahan logika dari jawaban, serta dengan menanyakan lebih jauh lagi, sehingga para siswanya terlatih untuk mampu memperjelas ide-ide mereka sendiri dan dapat mendefinisikan konsep-konsep yang mereka maksud dengan mendetail. Selain menanyakan atau mengajukan pertanyaan Socrates acap kali berdebat dengan orang. Dalam perdebatan, ia menggunakan sindiran, melalui desakan pertanyaan tiada henti, agar pihak lawan bertentangan sendiri, mengakui tidak tahu sama sekali terhadap pertanyaan tersebut. Melalui bentuk tanya-jawab, teknik bantuan yakni membantu pihak lawan bicara membuang pandangan yang salah, menemukan kebenaran yang sebenarnya, menyimpulkan melalui perbandingan terhadap analisa masing-masing untuk mencari hukum universal.
Metode ini dikenal dengan sebutan dialektika, berasal dari kata kerja Yunani dialegesthai yang berarti bercakap-cakap atau berdialog. Dimana dalam mengajar Socrates banyak melakukan dialog atau wawancara. Selain itu, dialektika dapat diartikan sebagai pekerjaan seorang ahli filsafat yang sedang membeda-bedakan eide (induksi) kemudian mengelompokkan eide tersebut menurut jenis-jenisnya (deduktif).
Dalam kamus istilah filsafat dan ilmu dikatakan bahwa metode dialektika ini diartikan sebagai metode dialog yang dilakukan oleh seorang guru yang dengan sabar bertanya kepada murid, sehingga murid tersebut mengetahui kesimpulan yang benar tanpa guru itu memberitahunya.
Dialektika berbeda dengan dualisme, karena dualisme membicarakan dua pikiran yang saling berlawanan dan tidak dapat dipadukan, sedangkan dialektika berbicara tentang dua pikiran yang saling berlawanan namun dapat saling direlasikan dan diproseskan. Hegel mengemukakan dialektika dapat dimengerti seperti tesis, antitesis dan sintesis. Misalnya terdapat sebuah pemikiran A (tesis) maka pasti terdapat pemikiran kontra A (antitesis). Untuk menyelesaikan kedua pemikiran tersebut maka dibuatlah pemikiran baru di antara keduanya, sebut saja pemikiran B (sintesis). Selanjutnya, dengan adanya pemikiran B (tesis) pasti terdapat pula pemikiran kontra B (antitesis) yang akan menghasilkan pemikiran baru lagi (sintesis) dan seterusnya. Melalui gambaran ini kita dapat melihat bahwa pemikiran dialektika selalu bersifat bergerak terus-menerus atau berproses.
Adapun metode dialektika yang dipelopori oleh Socrates adalah metode dialektika metafisis. Dikarenakan dengan metode ini Socrates dapat menemukan dasar pengetahuan tentang metafisika.
Dan metode ini ia terapkan bukan saja kepada murid-muridnya tapi juga kepada orang-orang dari berbagai kalangan baik itu ahli politik, pejabat pemerintahan, pedagang, tukang maupun petani sekalipun, setiap kali ia menjumpai mereka.
Dengan berdialektika seperti ini, Socrates mampu membuktikan kebenaran yang objektif, dimana kebenaran tersebut bergantung kepada manusia itu sendiri. Dan mematahkan pendapat kaum sofis yang menyatakan kebenaran itu relatif. Selain itu, ia juga dapat menyikapi kepalsuan dari peraturan-peraturan dan hukum-hukum yang semu dan mengajak orang untuk menelusurinya hanya melalui metode yang bersifat praktis ini.
Metode ini ia awali dengan memberikan beberapa pertanyaan. Pertanyaan pertama merupakan hipotesis, dimana hipotesis ini harus diuji terlebih dahulu sehingga akan memunculkan pertanyaan kedua yang akhirnya akan mendapatkan kesimpulan atau pengetahuan. Biasanya Socrates mengatakan kepada murid-muridnya setelah pembelajaran: "Kiranya kalian sudah 'cukup' menerima masukan dariku. Sekarang tibalah Saatnya bagi kalian untuk mengajukan argumentasi, mengajukan sanggahan Kalau perlu". Dan dari perkataan tersebut, maka dimulailah proses dialektika antara guru dan muridnya.
Socrates lebih suka menyebut metode pembelajarannya dengan nama "maieutike tekhne atau seni kebidanan". Ini disebabkan Socrates mengqiyaskan apa yang ia lakukan dengan ibunya sebagai seorang bidan, dimana tugas kesehariannya hanyalah menolong manusia dan menarik keluar bayi. Artinya membantu orang untuk "melahirkan" wawasan yang benar.
Induksi dan Definisi
Dengan metode dialektika ini, menurut Aristoteles selaku murid Plato bahwa Socrates telah melahirkan dua poin penting dalam menggapai sebuah ilmu pengetahuan. Dua poin tersebut adalah induksi dan definisi.
Induksi adalah suatu cara berpikir yang bertolak dari hal-hal yang khusus dan menarik kesimpulan untuk hal yang umum. Cara ini telah Socrates terapkan yaitu dengan memberikan atau mengajukan pertanyaan tentang keutamaan kepada semua orang dalam berbagai profesi, kemudian jawaban dari setiap orang tadi disimpulkan sehingga menjadi sebuah pengetahuan.
Kemudian, poin yang kedua adalah: Definisi, dimana di dalamnya telah mencakup intisari serta hakikat dari sesuatu sehingga dapat mewakili seluruh populasi yang didefinisikan itu tanpa ada ikatan ruang dan waktu. Dengan kata lain, definisi dihasilkan atas dasar induksi yang berusaha menentukan inti atau hakikat sesuatu hal. Misalnya: Definisi tentang lingkaran, dalam definisi ini akan dijelaskan apa sebenarnya hakikat dari lingkaran tersebut dan definisi ini berlaku untuk semua lingkaran.
Socrates memberikan teori tentang definisi ini dengan beberapa poin yaitu:
1. Suatu definisi ideal harus memberikan pada kita hakikat dari yang ditunjuk oleh suatu kata.
2. Hakikat ini akan ditinjau secara tunggal dan sederhana.
3. Definisi akan menjawab pertanyaan "Apakah unsur pokok yang menjadikan sesuatu hal ada"?
4. Dalam menjawab pertanyaan ini kita akan mengetahui: (a) yang sungguh-sungguh menjadikan semua hal yang benar adalah benar, dan (b) berdasar atas itu kita mengenal dan mampu menanamkan suatu hal yang benar adalah benar.
5. Dengan pengetahuan ini sebagai patokan, kita dapat secara rasional, metodis benar.



C. Kesimpulan
Dari pembahasan di atas, dapat disimpulkan bahwa:
1. Dialog memiliki peran yang sangat signifikan di dalam kehidupan ini, sehingga setiap permasalahan atau perdebatan dapat terselesaikan.
2. Metode dialektika ini sangat relevan dengan proses pembelajaran di segala bidang (ad-durus) ataupun tingkatan (al-marhalat).
3. Kebenaran yang objektif dapat diraih, salah satu caranya adalah dengan berdialektika (bercakap-cakap).

DAFTAR PUSTAKA
Anhari, Masjkur. A. 1992. "Filsafat Sejarah Dan Perkembangannya Dari Abad Ke Abad". Jakarta: CV Karya Remaja
Bakhtiar, Amsal. 2007."Filsafat Ilmu" Jakarta: PT RajaGrafindo Persada
Dipo, Mang. 2008 "Tujuh-Pintu" http://www.nabble.com/ (online). diakses 02/07/2008
Epping, A. dkk., 1983. "Filsafat Ensie (Eerste, Nederlandse, Systematisch, Ingerichte, Encyclopedie)". Bandung: Penerbit Jemmars
Mudhofir, Ali "Teori Dan Aliran Dalam Filsafat Dan Teologi". Yogyakarta: Gadjah Mada University Press
Mudhofir, Ali "Kamus Istilah Filsafat dan Ilmu". Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Mudhofir, Ali. 2001. "Kamus Filsuf Barat". Yogyakarta: Penerbit Pelajar
Rahmat. "Socrates tentang Perjalanan Jiwa dan Persemayamannya" http://erabaru.or.id/ (online). diakses 02/07/2008
Subeno, Sutjipto. 2006. "Influence of dialectical Positivism" http://www.grii-andhika.org (online). diakses 02/07/2008
Tafsir, Ahmad. 2003. "Filsafat Umum, Akal dan Hati Sejak Thales Sampai Capra". Bandung: PT Remaja Rosdakarya
, "Socrates" http://id.wikipedia.org/ (online). diakses 02/07/2008
, 2007."Socrates" http://grelovejogja.wordpress.com/ (online). diakses 02/07/2008

Tidak ada komentar:

Posting Komentar